Proses terjadinya
hujan
-
Panas matahari menyebabkan air di sungai, danau, dan laut
menguap ke udara. Selain bentuk air secara fisik, air yang menguap ke udara
juga bisa berasal dari tubuh manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda
lain yang mengandung air. Kemudian uap air naik terus ke atas hingga menyatu ke
udara bersama uap-uap air lainnya.
-
Suhu udara yang tinggi
akibat panas matahari akan membuat uap air tersebut mengalami proses kondensasi
(pemadatan) dan menjadi embun. Embun berbentuk titik-titik air kecil sedangkan
suhu yang semakin tinggi membuat jumlah titik-titik embun semakin banyak hingga
kemudian berkumpul memadat dan membentuk awan. Menurut kajian Neilburger
tahun 1995, pada tahapan ini, tetes-tetes air memiliki ukuran jari-jari sekitar
5-20 mm. Dalam ukuran ini tetesan air akan jatuh dengan kecepatan 0,01-5
cm/detik sedangkan kecepatan aliran udara ke atas jauh lebih tinggi sehingga
tetes air tersebut tidak akan jatuh ke bumi. Supaya sebuah tetes air dapat jatuh
ke bumi dibutuhkan ukuran sebesar 1 mm karena hanya dengan ukuran sebesar
itulah tetes air dapat mengalahkan gerakan udara ke atas.
- Dengan bantuan angin,
awan-awan tersebut bisa bergerak ke tempat lain. Pergerakan angin ini dapat
membuat beberapa awan kecil menyatu dan membentuk awan yang lebih besar lalu
bergerak ke langit atau ke tempat yang memiliki suhu lebih rendah.
Semakin banyak butiran air terkumpul maka akan membuat warna awan semakin
kelabu.
-
Akibat dari jumlah titik
air yang semakin berat akan membuat butiran-butiran tersebut jatuh ke bumi
dalam bentuk hujan.
Proses terjadinya hujan pada awan hangat
Saat uap air terangkat ke atmosfer akan berfungsi sebagai
inti kondensasi yang menyebabkan uap air mengalami proses evaporasi
(pengembunan). Sumber utama inti kondensasi adalah garam yang berasal dari air
laut. Karena sifatnya yang higroskopik maka semenjak dimulai proses kondensasi,
partikel berubah menjadi droplets (titik air) dan droplets yang berkumpul
membentuk awan. Partikel air yang mengelilingi debu serta kristal garam akan
menebal sehingga menjadi lebih berat dari udara dan mulai jatuh dari awan
sebagai huja
Proses terjadinya hujan pada awan dingin
Proses ini dimulai dari adanya Kristal es yang bertambah
banyak melalui air super dingin (supercooled water) dan deposit uap air.
Keberadaan Kristal es memegang peranan penting dalam proses hujan pada awan
dingin sehingga sering disebut juga proses Kristal es.
Pada waktu udara naik lebih tinggi ke atmosfer, terbentuklah
titik-titik air dan juga awan. Di ketinggian tertentu yang sumbunya berada di
bawah titik beku maka awan tersebut akan berubah menjadi Kristal-kristal es
kecil. Udara sekelilingnya yang tidak begitu dingin membeku pada Kristal tadi
yang membuat Kristal bertambah besar dan menjaid butiran salju. Bila terlalu
berat maka salju akan turun. Saat melewati udara hangat maka salju tersebut
mencair dan menjadi hujan namun pada musim dingin, salju jatuh tanpa mencair.
Beberapa fakta lain mengenai hujan:
- Apabila suhu di atmosfer sangat dingin maka titik air tersebut akan membeku dan berubah menjadi es. Itulah mengapa di beberapa tempat yang bersuhu rendah sering terjadi hujan salju sedangkan di Indonesia yang memiliki iklim tropis, hujan salju sulit terjadi.
- · Air hujan berasal dari penguapan air laut sebanyak 97%. Meskipun air laut merupakan air asin namun ketika sudah menjadi hujan akan menjadi air tawar. Ini diakibatkan salah satu hukum fisika yang menjelaskan dari manapun asal air yang menguap ketika sudah melalui awan maka kandungan lainnya akan hilang. Diketahui bahwa garam dan mineral memiliki berat jenis yang berbeda dengan air maka ketika air berubah menjadi titik-titik kecil maka kandungan garam, mineral dan lainnya akan luruh dengan sendirinya
No comments:
Post a Comment